Palembang Sebuah Negeri Yang Hilang (Refleksi Hari Jadi Palembang).


Oleh: Kgs Ali Akbar Muttaqien, Ketua Umum HMI Komisariat Teknik Unsri

https://lemabangit2.files.wordpress.com/2011/08/lemabang-it-2.gif Dapunta Hyang berangkat dari Minanga membawa tentara dua laksa (satu laksa: 10.000) dan 200 peti (kosa) perbekalan dengan perahu, serta suatu tempat yang bernama Melayu. Pada tanggal 5 Paro Terang, bulan Asadha (tahun 683 Masehi) dengan suka cita mereka datang disuatu tempat dan membuat kota (wanua) dan Kerajaan Sriwijaya memperoleh kemenangan, perjalanannya berhasil dan seluruh negeri memperoleh kemakmuran (Prasasti Kedukan Bukit).

Begitulah bunyi prasasti yang menurut para ahli sejarah merupakan cikal bakal berdirinya sebuah kerajaan besar di nusantara yang bernama She-li-fo-she (Sriwijaya). Sebuah kerajaan maritim super power di Asia Tenggara pada masanya, yang berpusat ditepi Sungai Musi (Palembang). Dengan menguasai Selat Malaka, Selat Karimata, Laut China Selatan, Selat Sunda, dan Laut Jawa, kerajaan Buddha ini mendominasi jalur pelayaran dan perdagangan internasional saat itu. Abad ke – 8 merupakan awal kebangkitan Sriwijaya. Kedah dan Tanah Genting Kra yang terletak di Semenanjung Malayu termasuk daerah kekuasaannya.

Abad ke – 9 hingga abad ke – 12 merupakan abad keemasan Sriwijaya. Pada abad ke – 13, Sriwijaya mulai mengalami kemunduran. Berbagai pemberontakan meletus didaerah-daerah kekuasaan yang ingin melepaskan diri dari pengaruh Sriwijaya. Belum lagi serangan dari Kerajaan Chola (India), Kerjaan Singasari (Jawa Timur), dan Kerajaan Siam. Pada tahun 1365, akhirnya ditaklukkandan dikuasai oleh Majapahit. Pada tahun 1377, Sriwijaya mencoba memberontak, namun dapat dipatahkan oleh pasukan Majapahit. Setelah itu, daerah tersebut menjadi kacau dan ditinggal oleh balatentara Majapahit sehingga tidak terurus. Akhirnya eks Sriwijaya di Palembang menjadi sarang penyamun dan perompak. Sriwijaya pun harus rela hilang dari peta dunia.

Palembang Darussalam

Beratus tahun lamanya eks Ibu Kota Sriwijaya menjadi daearah tak bertuan. Hingga pada abad ke – 17, tumbuh Kesultanan Palembang Darussalam yang bercorak Islam, yang berpusat ditepi Sungai Musi. Sejak saat itu, nama Palembang mulai mencuat kepermukaan. Palembang artinya tempat melimbang emas. Konon kabarnya, Muara Sungai Ogan adalah tempat orang melimbang atau menambang emas. Kesultanan inilah yang merupakan awal mula Palembang menjadi kota modern.

Syariat ditegakkan pada masa Kesultanan. Al-Qur’an dan hadits merupakan konstitusi dalam menjalankan pemerintahan. Tujuan hanya satu, mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang di ridhoi Allah SWT (baldatun thoyyibatun warabbun ghafur). Pada masa itu, orang-orang sadar bahwa syariat Islam bukanlah suatu yang harus ditakuti. Orang-orang China di Palembang pada pada saat itu justru dapat hidup dengan aman dan tentram di bawah payung Kesultanan Palembang Darussalam.

Justru Kesultanan Palembang Darussalam berdiri guna memberikan jalan hidup yang benar bagi penduduk eks Sriwijaya, yang hidup dengan hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Ketenangan orang Palembang terusik ketika kolonial Belanda datang ke kota ini, dengan dalih untuk berdagang. Pejabat kolonial membujuk Sultan Palembanguntuk bekerjasama dalam hal tata niaga. Ekonomi Palembang yang tadinya stabil menjadi kacau balau karena ulah orang asing. Monopoli perdagangan mejadi hak kolonial Belanda. Tindakan Belanda yang sewenang-wenang. Apalagi setelah Belanda mengetahui bahwa daerah Palembang memiliki deposit minyak bumi yang potensial.

Kesultanan Palembang Darussalam lalu memutuskan untuk melawan tindakan sewenang-wenang Belanda tersebut dengan jalan kekerasan. Sultan Najamuddin dan Sultan Badaruddin adalah tokoh yang berani berkata “tidak” kepada kolonial Belanda. Pada tahun 1819 berkobarlah perang Belanda vs Palembang yang memakan korban cukup banyak baik dipihak Belanda maupun Kesultanan Palembang Darussalam. Dalam suatu pertempuran, Belanda dapat menangkap Sultan Najamuddin, kemudian di asingkan ke Cianjur. Penggantinya Sultan Badaruddin ternyata mempunyai sikap yang lebih berani dan tegas. Pasukan-pasukan Belanda yang ada di Palembang diserangnya. Pasukan-pasukan Belanda melarikan diri ke Pulau Bangka.

Pada tahun 1821 Belanda mendatangkan pasukan dari Batavia untuk membantu menyerang Palembang. Pertempuran berkobar hebat, tetapi istana Kesultanan Palembang Darussalam dapat direbut oleh Belanda. Sultan Badaruddin ditangkap, lalu di asingkan ke Ternate (Maluku Utara). Secara de facto, Kesultanan Palembang darussalam masih ada, tetapi secara de jure Kesultanan sudah tidak ada lagi, karena sudah berada di bawah kekuatan kolonial Belanda. Untuk menyenagkan dan menghibur rakyat Palembang, Belanda lalu mengangkat putera Sultan Najamuddin sebagai sultan baru. Harapan Belanda, Kesultanan Palembang Darussalam dapat menjadi pemerintahan boneka di kota Palembang. Tetapi, Sultan Palembang yang baru itu pun mengadakan perlawanan terhadap Belanda.

Akhirnya, pada tahun 1825 Kesultanan Palembang Darussalam dihapuskan. Palembang akhirnya dikuasai langsung oleh pemerintah Hindia Belanda, menjadi Liberal Palembang. Seiring dengan hilangnya Kesultanan Palembang Darussalam. Nama Palembang tetap dipakai karena pemerintah kolonial Belanda tidak berinisiatif untuk mengubah namanya. corak Palembang yang tadinya kental dengan nuansa Islam pupus sudah. Kota Palembang semakin berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Penduduk dari berbagai daerah di wilayah Sumatera Selatan berdatangan mencari hidup Di Kota Palembang. Bahasa palembang asli merupakan perpaduan bahasa Melayu-Jawa semakin hilang. Bahasa Palembang yang dipakai saat ini oleh Wong Palembang adalah bahasa kasar, atau bahasa yang biasa dipakai oleh penduduk diluar lingkungan Kesultanan Palembang Darussalam.

Dibawah rezim kolonial, masyarakat Palembang tumbuh menjadi sangat liberal, identitas Islam yang pada masa Kesultanan yang pada hakikatnya memanusiakan manusia, di era kolonial menjad bias. Perasaan senasib sepenanggungan membangkitkan ghairah (semangat) juang rakyat Palembang dalam melawan kolonial Belanda. Masa-masa revolusi kemerdekaan membuat Palembang membara. Perang 5 hari 5 malam pada tahun 1947 adalah salah satu bukti kegigihan penduduk Palembang dalam mengusir penjajahan dari Bumi Palembang Darussalam.

Kini, Palembang telah kehilangan identitasnya, Palembang Darussalam tidak sama dengan Aceh Darussalam. identitas ke-Islaman Aceh telah berakar kuat sejak abad ke -13 Masehi, ketika pertama kali Islam masuk kewilayah tersebut melalui perantara pedagang dari India, Arab, dan Gujarat. Ke-Islaman penduduk Aceh tersebut justru melahirkan semagat jihad (bersungguh-sungguh) dalam menegakkan syariat Islam. Semangat tersebut membuat Aceh resistan terhadaap keinginan Belanda yang ingin bekerjasama dengan Kesultanan Aceh Darussalam. Baru abad ke – 20, Aceh dapat ditaklukkan Belanda, namun identitas ke-Islaman Aceh tetap terpelihara, baik ditingkat grass root (akar rumput) maupun di level keluarga Kesultanan yang yang telah kehilangan otoritasnya dalam memimpin rakyat. Kini, Aceh tetap memegang teguh syariat Islam. Apalagi setelah Naggroe Aceh Darussalam berdiri di Bumi Serambi Mekkah, menggantikan Daerah Istimewa Aceh. Lalu bagaimana dengan Palembang Darussalam? Di usianya yang sudah cukup tua, yakni 1319 tahun, Palembang ternyata kehilangan identitas diri, suatu hal yang sangat ironi sekali. Wallahu a’lam bshowab.

About Iwan Lemabang
aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa. LEMABANG 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s